Imaji Terindah by Sitta Karina| Book Review




 
Judul : Imaji Terindah
Penulis : Sitta Karina
Penerbit : Penerbit Literati
Tahun Terbit : 2016
ISBN : 9786028740609
Jumlah Hlm : 290 hlm
*

“Jangan jatuh cinta kalau nggak berani sakit hati.”
Tertantang ucapan putra rekan bisnis keluarganya pada sebuah jamuan makan malam, Chris Hanafiah memulai permainan untuk memastikan dirinya tidak seperti yang pemuda itu katakan.
Dan Kianti Srihadi—Aki—adalah sosok ceria yang tepat untuk proyek kecilnya ini.
Saat Chris yakin semua akan berjalan sesuai rencananya, kejutan demi kejutan, termasuk rahasia Aki, menyapanya. Membuat hari-hari Chris tak lagi sama hingga menghadapkannya pada sesuatu yang paling tidak ia antisipasi selama ini, yakni perasaannya sendiri.

*


“Secara nggak langsung, kamu kayak ngingetin aku, bahwa hidup itu dibawa gampang, tapi jangan ngegampangin hidup.” | Hlm. 130


Chris Hanafiah bertemu dengan Kianti Srihadi—si anak baru yang memukaunya dengan menjadi anggota cheerleader. Tepat sebelum hari itu, pada jamuan makan malam antara keluarga Hanafiah dan Kaminari, Chris—yang tidak berminat pada makan malam tersebut—mendapat ejekan dari salah satu putra rekan kerja ayahnya. Kei Kaminari bilang bahwa hatinya masih perawan. Ejekan itu membuat Chris termotivasi untuk membuktikan bahwa dia tidak seperti yang diejekkan si Kaminari Kei dan untuk membuktikannya ia akan ‘menggunakan’ si anak baru—Kianti.
Menjadi cowok yang disebut-sebut pangeran di sekolah membuat Chris berada di atas angin. Dia merasa yakin dia bisa mendapatkan Kianti dengan mudah. Namun, yang terjadi justru penolakan dari Kianti. Tidak punya pilihan, Chris pun memilih untuk memilih jalan yang lebih halus, yaitu dengan menjadi teman Kianti terlebih dahulu. Tidak sulit untuk menjadi teman Kianti. Berkepribadian suka bercanda membuat Chris dengan mudah menjadi teman yang cukup dekat dengan Kianti, bahkan Kianti memberitahunya nama panggilannya, Aki.
Mencoba “bermain” dengan Aki ternyata tak semudah yang Chris kira. Ada perasaan-perasaan aneh yang sebelumnya tidak pernah timbul di hatinya. Gelisah hingga cemburu dialami oleh Chris. Terlebih, Kaminari Kei yang aneh sering hadir di mimpinya. Dan yang mengherankan adalah... Kaminari Kei berada di antara dirinya dan Aki. Entah bagaimana ceritanya, cowok itu bisa membuatnya semakin gelisah. Chris tidak mengerti perasaan itu.
Aki berubah menjadi hal yang menyita dunia Chris. Rahasia demi rahasia yang terungkap membuat Chris hilang akal dan menjadi sibuk dengan dunianya sendiri—perasaannya sendiri. Persahabatannya dan kekerabatannya mendadak menjadi kacau. Apakah ejekan Kaminari Kei memang benar? Atau, ini semua hanyalah sebuah proses pendewasaan diri bagi Chris?

“Aku cuma tidak mau melawan keadaan. Kalau memang aku tidak berbuat salah, namun tetap nggak diterima, mau bagaimana lagi?” | Hlm. 18

“Orang yang tidak menyerah terhadap persahabatan yang sudah porak-poranda, apalagi namanya kalau bukan pahlawan terhadap persahabatan itu sendiri?” | Hlm. 242

Imaji Terindah adalah tulisan pertama Sitta Karina yang kubaca sekaligus seri Hanafiah pertama yang saya baca. Dulu, saya pernah membaca beberapa tulisan bloger buku yang mengatakan bahwa mereka menyukai seri Hanafiah ini. Saya sama sekali nggak paham, kenapa mereka bisa begitu gandrung pada seri ini. Yang saya pikirkan saat itu, seri Hanafiah adalah tentang keluarga besar yang kolot begitu. Maafkan pemikiran saya ini. (T_T) Tapi, setelah saya membaca Hanafiah #1.5 ini, pikiran saya berubah. Saya jadi tahu kenapa seri ini memiliki daya tarik istimewa.
Seri Hanafiah tidak bercerita tentang keluarga yang kolot—seperti yang dulu saya pikirkan—tapi tentang kehidupan keluarga modern dan unik. Membaca Imaji Terindah bagi saya seperti merasakan kembali momen keluarga besar berkumpul bersama di rumah nenek. Keluarga Hanafiah ini begitu modern, tapi juga “tradisional” dan hangat.  
Imaji Terindah terfokus pada kisah Christopher Hanafiah. Jujur saja, semula, saya kira dia adalah seorang pria dewasa, ternyata... Chris ini adalah seorang siswa SMA. Kisahnya dengan Kianti bagi saya sangat menarik. Tentang bagaimana suatu perasaan dapat terbentuk dari keisengan plus kebiasaan (dan tentu saja ketertarikan).
Jika ditilik dari usia tokoh utamanya, Imaji Terindah tergolong teen literature, namun, saat membacanya saya justru tidak merasakan rasa teen pada buku ini. Saya seperti membaca buku Young Adult yang cara berpikir tokoh-tokohnya begitu dewasa plus memiliki diksi lugas nan luwes yang mengiringi cerita ini. Imaji Terindah begitu elegan, bikin saya betah bacanya.
Sebagai tokoh utama dari kisah ini, Chris digambarkan sebagai cowok yang sempurna untuk ukuran novel—ganteng, kaya, dan pergaulannya keren. Cukup klise memang. Namun, saya menyukai bagaimana Chris berkembang pada buku ini. Sebagai remaja, ada kalanya Chris menjadi sosok yang menyebalkan sekaligus plin plan, namun dia juga mampu menjadi sosok yang begitu dewasa.
Sedangkan Kianti adalah sosok yang penuh nasihat—protagonis banget lah. Di antara semua tokoh dalam Imaji Terindah, saya justru kurang menyukai perkembangan karakter Kianti. Menurut saya, menuju akhir cerita, karakter Kianti menjadi karakter yang semakin lemah—bukan dalam artian lemah fisik. Dia menjadi sosok yang patah semangat, padahal pada awal cerita semangat Kianti begitu berapi-api. Meskipun begitu, saya tidak bisa menampik bahwa sebagai protagonis, Kianti berhasil menyuntikkan nasihat-nasihat pada para pembaca melalui cara berpikirnya. Bagaimana dia berpikir tentang dirinya dan orang-orang di sekitarnya membuat saya kagum. Terutama untuk bagian ini:

“Bicara.” Saat mengatakan ini, mimik Aki tampak santai, tanpa beban. “Itu satu-satunya yang mampu menyelamatkan persahabatan.” | Hlm. 191

Selain dua tokoh di atas, jangan lupakan tokoh favorit saya ini. Dia adalah Kaminari Kei! Cowok Jepang ini acuh tak acuh, tapi diam-diam... dia begitu peduli dengan orang-orang yang ia kenal. Terkadang, saya merasa Kei adalah cerminan diri saya. Mungkin karena itulah saya menyukai sekaligus menjadikannya sebagai tokoh favorit saya di Imaji Terindah. Saya ingin memiliki kemampuan istimewa seperti Kei. Hmm, penasaran dengan kemampuan yang Kei miliki? Baca juga dong~ :D
Selain kisah cinta manis nan menggemaskan, Imaji Terindah juga menyuguhkan kisah tentang persahabatan antara Chris, Rimbi, dan Alde. Dari situ saya melihat bahwa sekalipun seseorang berada di puncak tertinggi, kita tetap memerlukan teman. Persahabatan antara tiga orang ini begitu menarik untuk diikuti. Memang tidak sempurna, namun dari persahabatan Chris-Rimbi-Alde kita bisa belajar tentang bagaimana cara pandang kita tentang suatu persahabatan.
Saya begitu menyukai bagaimana kisah dalam Imaji terindah ini bergulir. Namun, saya kurang menyukai bagaimana kisah ini berakhir. Ini selera pribadi saja ya, namun menurut saya penutup kisah ini terkesan mendadak, terburu-buru, dan kurang halus. Andai penulis tidak menghadirkan ending-nya dengan cara yang “mendadak”, mungkin saya akan lebih menyukai ending-nya.
Sebagai seri Hanafiah pertama yang saya baca, Imaji Terindah berhasil memberikan impresi yang sangat baik tentang seri ini. Saya jadi ingin membaca seri Hanafiah yang lain, semoga saya diberi kesempatan membacanya suatu saat nanti. Karena ini adalah seri ke #1.5, saya agak bingung dengan beberapa bagian cerita, seperti anggota keluarga Hanafiah yang sangat menarik itu.
Oh ya, saya sangat mengapresiasi Mbak Sitta Karina yang juga menjadi desainer sampul Imaji Terindah ini. Sungguh, saya sangat-sangat-sangat menyukai kaver Imaji Terindah ini. Eye-catching dan elegant!
Seperti meminum teh hangat saat hujan sedang turun, Imaji Terindah memberi kehangatan, rasa manis, dan pahit-sepat dalam waktu bersamaan. Dan membuat ketagihan! Recommended!
Ditunggu karya selanjutnya, Mbak Sitta Karina! Terima kasih dan sukses selalu. J
3.5 stars untuk Imaji Terindah! ^v^

Menjadi sahabat yang baik adalah sesuatu yang terkesan sepele, namun sulit untuk diwujudkan. | Hlm. 68



XO,
PutriPramaa

2 komentar:

  1. saya salah fokus sama sampulnya.. simple tapi keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, kan? Saya nggak sendirian ternyata :D

      Hapus

 
La Distances Blog Design by Ipietoon